logo

Saturday 18th of November 2017

Bupati dan Wakil

Hari Jadi Kab. Brebes

Hari Jadi Ke-339 Tahun 2017

OPD BARU 2017

OPD Kab. Brebes per 2017

GPR Kominfo

 

Jumlah Pengunjung

Flag Counter

Menggenjot IPM, Piala Adipura, Dengan Enam Pilar Pembangunan

Roda pembangunan Kabupaten Brebes terus berjalan menuruti ritme waktu. Tangan-tangan terkepal dengan sekuat tenaga melakukan kerja dengan sentuhan pemikiran dan hati yang  halus dan jernih. Itulah yang dilakukan masyrakat Brebes dalam membangun Kabupatennya agar tergapai tujuan yang mandiri, adil dan sejahtera.

Lebih dari itu, dibawah tapuk kepemimpinan H Idza Priyanti SE dan Narjo SH dalam waktu empat tahun berjalan, mereka menggenjot roda pembangunan Brebes tanpa mengenal lelah.

Pengakuan pemerintah pusat dalam pemberian sertifikat Adipura yang telah dinantikan masyarakat lebih dari 18 tahun akhirnya tergapai walau baru sebatas sertifikat, belum Piala. Tapi Idza Priyanti yakin, untuk peninlaian tahun 2016, Piala Adipura bakal ada dalam genggaman masyarakat Brebes. “Alhamdulillah, setelah menanti 18 tahun, akhirnya Brebes mendapat sertifikat Adipura,” ungkap Bupati dengan bangga.

 

Komitmen Bupati sangat tinggi untuk menggapai Piala Adipura. Bukti keseriusannya ditunjukan dengan mengeluarkan instruksi agar setiap saat ada kegiatan kerja bakti serentak di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). “Saya tak bosan-bosan memantau langsung kegiatan bersih lingkungan,” terangnya.

Demikian juga telah diprogramkan gerakan Bersih Desa, yang menandakan

Namun apa yang dilakukan Bupati takan berarti apa-apa kalau tidak ada dorongan dari dalam dan keseriusan personil SKPD. Pasalnya, keberhasilan meraih adipura bukan tanggung jawab dari satu SKPD saja, atau Kantor Lingkungan Hidup (KLH) semata. Untuk itu, Kepala SKPD manapun perlu mengajak stafnya secara rutin melakukan bersih lingkungan di tempat kerjanya. Mengerahkan seluruh personil SKPD bukan berarti memanjakan cleaning servis tetapi sebagai ujud tanggung jawab bersama untuk pola hidup bersih dan sehat.

Demikian juga dengan warga masyarakat, seyogyanya dengan rela hati meluangkan waktu untuk bersih-bersih lingkungan tanpa harus disuruh-suruh. Meskipun, kesadaran hidup bergotong royong sudah mulai menurun di era kini. Tetapi kalau iklim kebersamaan bisa diciptakan, para tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh warga memberi tauladan, masyarakatpun akan mengikutinya. Artinya, masyarakat masih bisa hidup gotong royong, melakukan bersih-bersih sebagai budaya asli masyarakat Indoneisa sejak jaman dahulu kala.

Program pemberian piala Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. Untuk mencapainya harus memenuhi dua indikator. Indikator pertama berupa kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota, kedua indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen dan daya tanggap.

Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Dalam lima tahun pertama, program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”.

Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali pada tanggal 5 Juni 2002 dan berlanjut hingga sekarang. Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu.

Peserta program Adipura dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu kategori kota metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa), kota besar (500 ribu hingga 1 juta jiwa), kota sedang (101 ribu hingga 500 ribu jiwa), dan kota kecil ( hingga 100 ribu jiwa). Kota Brebes masuk kategori kota kecil karena penduduk kotanya kurang dari 100 ribu jiwa.

Pembenahan fisik gedung yang meliputi pengecatan, pembersihan ruangan, penataan sarana dan prasarana kantor pun dilakukan guna menciptakan keindahan dan keasrian lingkungan gedung kantor.

Selanjutnya menyediakan tempat pengelolaan sampah, melakukan pembinaan masyarakat, membuat hutan kota di sebelah GOR, membuat taman kota di limbangan, di kali sigeleng, di areal GOR, pengelolaan sampah Yang benar dan terpilah, mengelola TPA dan Penataan PKL. “Semua itu bisa terwujud kalau semua pihak bisa saling bekerja sama, bergotong royong untuk mewujudkan Brebes Berhias dan kembali meraih Adipura,” pungkasnya.

Piala Adipura merupakan penghargaan terhadap kota terbersih dan asri. Dengan kriteria tertentu, sebuah tim yang dibentuk Kementerian Lingkungan Hidup melakukan penilaian terhadap kebersihan kota dan keasriannya. Beberapa titik selalu dijadikan sample dalam penilaian tersebut. Jika ada satu titik saja yang kotor dan tidak terawat, dipastikan akan gagal mendapatkan piala tersebut.

Karenanya, menjelang penilaian Adipura, pemerintah daerah setempat terus berupaya untuk mewujudkan harapannya mendapatkan Piala Adipura. Mulai dari kerja bakti, penanaman pohon penghijauan hingga penyediaan sejumlah fasilitas yang memadai. Karena bagaimana pun juga, keberhasilan meraih Piala Adipura adalah sebuah kebanggaan atau gengsi. Dengan Piala Adipura, maka kota tersebut diakui secara nasional sebagai kota yang bersih.

Namun, apakah lantas semangat kebersihan itu hanya untuk meraih Piala Adipura atau hanya sebagai penyemangat saja? Semoga saja, kota-kota yang meraih Piala Adipura tidak menjadikan piala itu sebagain tujuan akhir. Namun sebagai tujuan antara, sebagai ajakan kepada masyarakat untuk berperilaku bersih dan sehat. Bahwa slogan kebersihan sebagian dari iman, yang saat ini banyak dipasang sebagai papan himbauan, itu memang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kebersihan sebagai bagian dari iman, selain sebagai ajaran agama, juga memiliki makna yang luas. Bukan hanya sekedar kebersihan semata, tetapi juga memiliki makna kebersamaan di dalamnya. Bahwa untuk mendapatkan kebersihan, tidak hanya dilakukan satu individu saja. Tetapi harus melibatkan banyak individu. Satu individu yang berbuat satu kebersihan, akan tertutupi oleh banyak individu yang membuat kekotoran. Hingga upaya kebersihan yang dilakukan satu individu itu akan percuma dan sia-sia.

Karenanya, gerakan kebersihan itu harus dilakukan bersama-sama, oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah sendiri, tidak hanya menghimbau atau memasang plang saja di sudut-sudut strategis, tetapi juga harus melakukan aksi nyata. Mulai dari mengajak seluruh staf pemerintahan untuk melakukan gerakan bersih-bersih, hingga memenuhi fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung kebersihan.

Memberi contoh, memang bukan pekerjaan yang mudah. Tetapi memang harus dilakukan dari atas. Bahwa untuk berbuat kebaikan, dengan menerapkan kebersihan, seorang pemimpin harus memberi contoh kepada bawahannya. Hingga tanpa disuruh pun, seorang staf pasti akan menjaga kebersihan lingkungan kantornya masing-masing. Tanpa pengumuman atau pun iming-iming hadiah, pasti bagi mereka yang sadar, akan melakukan ajaran agama yang paling mudah tersebut. Begitu pula di keluarga, orang tua harus memberikan contoh kepada anak-anaknya.

Niat pemerintah memberikan Piala Adipura sendiri, bukan bermaksud untuk membedakan antara satu kota dengan kota yang lainnya. Namun menjadi penyemangat bagi kota-kota tersebut untuk berbuat lebih dalam bidang kebersihan. Ada semangat agar kotanya, bisa meriah predikat terbersih. Tentunya, langkah pemerintah ini tidak bisa meninggalkan masyarakat. Masyarakat harus diajak serta untuk aktif dalam upaya meraih Pila Adipura tersebut.

Keberhasilan kota-kota yang mendapat Piala Adipura, tentu keberhasilan seluruh masyarakat kota tersebut. Pemerintah berhasil mengajak masyarakat untuk berperilaku bersih, tidak hanya saat menjelang penilaian Adipura, tetapi seharusnya menjadi perilaku sehari-hari. Semoga saja, Piala Adipura yang sudah diperoleh itu, bukan untuk gensi saja, tetapi menjadi budaya dan jatidiri setiap warga.



Developed © Pemerintah Kabupaten Brebes 2017.