Batik Salem

6 nama batik salem di telinga masyarakat awam masih belum setenar batik asal Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan. Batik produksi itu pun masih sebatas industri rumah tangga. Namun, siapa sangka batik buatan masyarakat Desa Bentar dan Bentarsari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes tersebut mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki batik mana pun di daerah lain.


Rumah mungil Hj Ratminah (62) tampak asri di tengah perkampungan warga Desa Bentar yang padat. Sederetan tanaman hias terawat dengan baik di halaman rumah yang cukup sempit. Tidak ada tanda khusus yang dipasang di depan rumah, baik papan nama maupun sekadar tulisan di dinding.

 


Namun manakala memasuki ruang tamu rumah, akan terlihat aktivitas perusahaan batik milik sang empu rumah. Sebuah etalase kecil dari bahan kayu menjadi penyekat ruang tamu dengan ruang keluarga. Di dalam etalase tampak kain-kain bermotif batik ditata secara rapi dalam dua sap rak. Dari cara penataan, tercermin pemilik etalase adalah orang yang teliti dan sabar. Setiap kain ditata secara terpisah menurut jenis motif dan bahan kain. "Beginilah, kami memajang kain-kain batik untuk pengunjung yang ingin memesan," kata Ratminah dengan roman cerah. Bagaimana sejarah keberadaan batik di tengah masyarakat Salem yang berkultur Sunda itu? Menurut kisah yang diceritakan Ratminah, sekitar 1917 seorang putri pejabat dari Pekalongan mengunjungi wilayah Salem. Di daerah itu, sang putri jatuh hati pada pemuda setempat. Mereka akhirnya menikah dan menetap di Desa Bentar.


Sejak saat itu masyarakat, terutama kaum wanita mulai mengenal kerajinan batik yang ditularkan sang putri. Ratminah yang merupakan cucu putri Pekalongan itu termasuk salah satu perajin batik terbesar di desa tersebut. Selain Ratminah, terdapat sekitar 140 perajin batik di Desa Bentar dan 200 orang di Desa Bentarsari. Uniknya, mereka yang menguasai keterampilan batik berasal dari kalangan wanita yakni ibu rumah tangga dan pelajar sekolah. Skala Rumah Tangga Perajin batik Salem tidak sama dengan perajin dari Yogya, Solo, ataupun Pekalongan. Di ketiga daerah itu perajin membuat batik secara industrial, sedangkan di Salem produksi batik masih berskala rumah tangga. Para ibu membuat batik hanya untuk mengisi waktu luang seusai melakukan tugas rumah. Sebagian lainnya ada yang sambil menunggu kios atau warung di depan rumah. Meski hanya pengisi waktu luang, produk batik salem tidak kalah dibandingkan dengan batik produksi daerah lain. Menurut H Ilyas, suami Ratminah, dalam pameran kerajinan daerah yang digelar Pemerintah Provinsi Jateng di Semarang beberapa tahun lalu, batik salem diakui paling orisinal di antara semua jenis batik. Ketika itu, Ny Ginanjar Kartasasmita yang hadir dalam acara tersebut menyatakan kekagumannya pada keaslian dan keunikan batik salem. Di mana letak orisinalitas batik salem? Ilyas mengemukakan, ciri khas yang tetap dipertahankan perajin batik salem hingga sekarang adalah 100% bikinan tangan. "Justru karena pakai tangan, mereka tidak diburu waktu dan bikin sebaik-baiknya," ujar Ilyas.

Di daerah lain, kebiasaan itu telah lama ditinggalkan para perajin, karena dianggap kurang produktif dan efisien. Terdapat beberapa kelebihan batik tangan dibandingkan dengan batik yang dibuat dengan cap. Yang paling utama, hasil karya batik tangan lebih artistik. Nilai lebih itulah yang membuat batik tangan diburu para kolektor batik. Selain itu, batik tangan juga lebih panjang dari segi usia. Ilyas menambahkan, terdapat 20 jenis motif yang dibuat perajin batik salem. Dari ke-20 motif, tiga di antaranya merupakan yang terbaik dan paling diminati pembeli. Ketiga jenis motif tersebut tidak dapat diproduksi secara industrial, tetapi hanya dapat dibuat dengan tangan. Itu pun hanya perajin yang berpengalaman bertahun-tahun dan memiliki ketelitian ekstra yang mampu melakukannya. Ketiga motif tersebut adalah motif kopi pecah, manggar, dan sawat rantai. (Suwandono-37s) Upaya Mengangkat Batik Salem MEMBATIK ternyata bukan pekerjaan gampang. Selain membutuhkan ketelatenan, harus punya jiwa seni dan kreasi yang tinggi. Salah menorehkan canting di kain bisa merusak ciri khas batik tersebut. Tapi lain halnya ketika ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kabupaten Brebes, berkunjung ke perajin batik salem. Mereka justru penasaran melihat ketekunan perajin wanita dalam melakukan pembatikan. Ketua Tim Penggerak PKK Ny Hj Maryatun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba langsung proses pembuatan batik salem di rumah kediaman H Ilyas, salah seorang perajin. Dibantu Ny Hj Ratminah, istri H Ilyas, istri Bupati Brebes itu langsung menorehkan pola tertentu yang menjadi ciri khas batik salem. ''Ternyata membatik sangat sulit. Perlu belajar lama,'' ujar Hj Maryatun, di depan pengurus dan anggota PKK Kecamatan Salem. Melihat keuletan perajin, Bupati Brebes H Indra Kusuma SSos yang menyertai kunjungan, spontan memberikan bantuan berupa alat canting cap kepada Kelompok Perajin Batik Salem. Dia mengharap, alat tersebut dapat meningkatkan produktivitas para perajin, sehingga ke depan nama batik salem dapat sejajar dengan batik solo atau pekalongan.

Batik salem memang belum setenar batik solo, yogyakarta, atau pekalongan. Meski demikian Pemkab Brebes terus berupaya mengangkat nama batik lokal ini, agar sejajar dengan batik asal daerah lain. Salah satunya, melalui promosi dan pameran yang digelar di kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan kota lainnya. Seragam PNS Pemkab juga mengupayakan agar batik lokal tersebut dipergunakan untuk seragam PNS pada hari Kamis. Di samping itu juga menggelar berbagai lomba rancang busana dengan kain batik salem. Dampaknya memang cukup bagus, omzet penjualan dari perajin di Desa Salem, Bentar, dan Bentarsari kian meningkat. ''Penjualan batik salem memang terus meningkat. Banyak pesanan luar kota datang ke sini,'' papar Ny Ratminah (62). Produksi batik salem hingga kini masih sebatas industri rumah tangga. Namun, karya perajin ini mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki batik mana pun di daerah lain. Salah satu orisinalitasnya adalah 100% bikinan tangan. Ciri khas ini tetap dipertahankan perajin, sejak keberadaannya tahun 1917 lalu. Menurut H Ilyas, karena membatik dengan tangan dan dikerjakan secara hati-hati, akan menghasilkan kualitas batik yang bagus. ''Batik salem diakui paling orisinal di antara semua jenis batik,'' ujar seorang perajin. Hal itu terbukti ketika Ny Ginandjar Kartasasmita mengunjungi sebuah pameran kerajinan daerah yang digelar Pemprov Jateng di Semarang beberapa tahun lalu, istri mantan menteri semasa rezim Soeharto tersebut menyatakan kekagumannya pada keaslian dan keunikan batik salem. Di tiga desa di wilayah Salem, terdapat lebih kurang 340 perajin batik. Uniknya, yang menguasai keterampilan batik sebagian besar kalangan wanita yakni ibu rumah tangga dan pelajar sekolah. Sementara itu, motifnya ada 20 jenis. Dari 20 motif tersebut, tiga di antaranya merupakan yang terbaik dan paling diminati pembeli. Yakni, motif kopi pecah, manggar, dan sawat ranta. Ketiga jenis motif tersebut tidak dapat diproduksi secara massal, tetapi hanya dapat dibuat dengan tangan. Itu pun hanya perajin yang berpengalaman bertahun-tahun dan memiliki ketelitian ekstra yang mampu melakukannya. Di mana mencari batik salem? Beberapa toko di Brebes menyediakannya. Jika ingin mendapatkan langsung datang ke perajin di Desa Bentar dan Bentarsari. (Wahidin Soedja-70)