Awal Pertemuan DWP Dinkominfotik Gelar Pelatihan Eco Enzyme
Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Dinkominfotik) Kabupaten Brebes melaksanakan pertemuan pertama untuk memperkenalkan kepengurusan periode 2025 sampai 2030. Sekaligus pelatihan mengolah sampah organik menjadi cairan fermentasi eco enzyme yang kaya manfaat, di Operation Room kantor dinas setempat, Rabu (7/1/2026).
Kepala Dinkominfotik Warsito Eko Putro SSos MSi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap kepengurusan DWP yang baru dapat menjalankan program-program kerja secara inovatif, selaras dengan visi dan misi DWP Kabupaten Brebes.
“Kepengurusan DWP Dinkominfotik ini diharapkan dapat memperkuat soliditas organisasi, meningkatkan kebersamaan, serta menumbuhkan semangat partisipasi aktif seluruh anggota. DWP bukan hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai organisasi yang mampu memberikan kontribusi nyata, baik di lingkungan instansi maupun di tengah masyarakat," ujarnya.
Warsito Eko berpesan kepada para anggota DWP di lingkungan Dinkominfotik Brebes agar lebih aktif lagi dalam melaksanakan kegiatan yang bernilai positif. Seperti halnya dalam mendukung kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan keluarga ASN.
"Dengan Kepengurusan DWP Dinkominfotik Brebes yang baru ini, diharapkan dapat semakin berkontribusi positif, tidak hanya bagi internal instansi, tetapi juga bagi masyarakat luas melalui berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan," pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinkominfotik Sriatun mengatakan, dengan membuat eco enzyme, pengeluaran rumah tangga berkurang karena eco enzyme dapat digunakan sebagai pembersih alami, sebagai pengganti pembersih kimia, sebagai pupuk tanaman atau pestisida organik, hasil fermentasi ini juga bermanfaat untuk mengurangi bau pada tempat sampah atau selokan.
Senada, Ketua DWP Persatuan Baby Aretha Warsito Eko Putro mengatakan, eco enzyme merupakan salah satu cara pengolahan sampah organik yang hasilnya sangat bermanfaat dengan bonus melimpah.
"Mulai dari perawatan diri, kesehatan hingga lingkungan. Semoga para pengurus dan anggota DWP Dinkominfotik dapat mempraktekkan dan menularkan ilmunya kepada saudara dan tetangga sekitarnya," katanya.
Sebagai narasumber Pegiat Eco enzyme Nusantara wilayah Brebes Ulfatunlaeli Sa’adiyah mengatakan, pembuatan eco enzyme sangat mudah dilakukan dengan rumus 1:3:10, yakni 1 bagian gula merah/molase, 3 bagian sampah organik (minimal 5 jenis kulit buah/sayur yang tidak keras, tidak berlemak, tidak bergetah dan tidak busuk), dan 10 bagian air (60 persen dari volume wadah).
"Caranya, gula merah dimasukkan ke dalam air. Lalu, potongan-potongan sampah organik yang sudah dicuci bersih dimasukkan ke dalam larutan gula tersebut. Selanjutnya, wadah ditutup rapat dan dibiarkan selama tiga bulan, agar sampah dan larutan gula terfermentasi," jelasnya.
Lanjut Ulfatunlaeli, hasil panen eco enzyme dapat diolah menjadi produk turunan yang ramah lingkungan seperti sabun mandi, sabun cuci piring atau pakaian, karbol wangi, deodorant, bedak dingin dan lain sebagainya.
"Dengan mengolah sampah organik menjadi eco enzyme, kita sudah turut serta merawat bumi. Melalui eco enzyme, kita dapat mengurangi pemanasan global dengan melindungi lapisan ozon sehingga dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi krisis iklim," bebernya.
Selain itu, kata Ulfatunlaeli, mengolah sampah organik menjadi eco enzyme juga dapat membantu mengurangi sampah rumah tangga dan mengurangi beban TPA karena sampah organik tidak berakhir di TPA.
Penulis: Ulfatunlaeli
Editor: Bayu Arfi


Leave a Comment